Program Pengabdian Masyarakat Unversitas Nurul Huda
OTT KPK dan Mitos Jual Beli WTP di BPK
Jika Minum Minimal Dua Cangkir Kopi Sehari Bisa Kurangi Risiko Kanker Hati
Siswi SMK di Lumajang Dibegal saat Berteduh
Mudah Cara Membuat Foto Menjadi Miniatur
Jadwal Gerhana Bulan Total Terjadi Malam ini 7 September 2025
5 Trik Rumah Tangga yang Akan Memudahkan Pekerjaan Sehari-hari
Foto:Lamhot Aritonang
JAKARTA - Tingginya peredaran uang bikin Bank yang dulunya kerap jadi incaran serangan siber. Tapi itu dulu, sekarang targetnya pun disebut bergeser ke sektor publik.
Pasalnya seperti disampaikan Widianto, Managing Director PT Bintang Anugerah Kencana (BAK) selaku distributor tunggal produk antivirus F-Secure di Indonesia, semakin ke sini sistem keamanan Bank disebut semakin ketat.
Demi keamanan sistem yang digunakan, banyak Bank yang kini menggunakan keamanan berlapis. Sehingga bukan perkara mudah bagi peretas untuk menembusnya.
"Bank pasti multi layer keamanannya. Sehingga sulit ditembus. Jadi kalau satu layer tembus, masih ada beberapa layer lain yang akan melindunginya. Oleh karenanya kini mereka mulai beralih ke sektor publik," jelasnya, di Coffe Club, Senayan, Jakarta.
Mulai diincarnya sektor publik terbukti pada Sabtu (15/5/2017) kemarin. Tercatat ada puluhan komputer di 99 negara di dunia yang terinfeksi ransomware bernama WannaCrypt. Dan rata-rata komputer yang terinfeksi adalah sektor publik, seperti rumah sakit dan ada juga bandara.
Di Inggris dilaporkan belasan layanan kesehatan dipastikan terinfeksi ransomware WannaCrypt. Yang mana tiap-tiap komputer yang terinfeksi data-datanya dikunci dengan cara enkripsi. Bila ingin data-data tersebut dibebaskan maka ada tebusan yang harus dibayar.
Indonesia pun termasuk negara yang terkena dampak penyebaran WannaCrypt. Dua rumah sakit di wilayah Jakarta disebut kena serangan ransomware ini, dan bikin pelayanannya tersendat.