Program Pengabdian Masyarakat Unversitas Nurul Huda
OTT KPK dan Mitos Jual Beli WTP di BPK
Jika Minum Minimal Dua Cangkir Kopi Sehari Bisa Kurangi Risiko Kanker Hati
Siswi SMK di Lumajang Dibegal saat Berteduh
Mudah Cara Membuat Foto Menjadi Miniatur
Jadwal Gerhana Bulan Total Terjadi Malam ini 7 September 2025
5 Trik Rumah Tangga yang Akan Memudahkan Pekerjaan Sehari-hari
MANGKRAK : Pembangunan jalan Jalingkut Brebes-Tegal, tepatnya di ruas Desa Bangsri Kecamatan Bulakamba, Brebes mangkrak lebih dari tujuh tahun. Pembangunan proyek itu diminta dilanjutkan untuk mengatasi persoalan kemacatan di Pantura Brebes dan Tegal. (Foto: suaramerdeka.com/Bayu Setiawan)
BREBES - Proyek pembangunan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) Brebes-Tegal yang telah mangkrak hampir tujuh tahun lebih didesak untuk dilanjutkan. Desakan itu dilontarkan DPRD Kabupaten Brebes menyusul persoalan kemacetan di jalur Pantura Brebes yang tak kunjung bisa teratasi, meski saat ini sudah ada jalan tol Pejagan-Brebes.
“Kami meminta Pemkab Brebes untuk mendesak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar kembali melanjutkan proyek pembangunan jalingkut yang mangkrak ini. Apalagi, informasi yang kami peroleh proses hukum proyek ini sudah selesai,” ujar Wakil Ketua DPRD Brebes, Warsudi, kemarin.
Dia mengatakan, selain menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan, keberadaan Jalingkut sepanjang 17 kilometer itu, juga diharapkan dapat memberikan keamanan bagi masyarakat. Meski saat ini sudah ada jalan tol, tetapi kendaraan berat seperti truk kontainer masih melintas di jalur dalam Kota Brebes. Keadaan itu menjadikan kerawanan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar Jalur Pantura.
“Di samping untuk mengatasi macet, Jalingkut ini juga bisa untuk mengantisipasi kejadian truk menabrak pasar yang merunggut banyak korban jiwa tidak terulang. Ini karena truk besar bisa melalui Jalingkut,” ungkapnya.
Menurut dia, kebijakan terkait imbauan agar kendaraan berat atau truk masuk tol juga bisa menjadi solusi untuk mengantisipasi agar kejadian kecelakaan yang merenggut korban jiwa banyak tidak terulang. Namun demikian, persoalan yang terjadi di lapangan sopir truk enggan masuk tol karena tarifnya mahal.
“Untuk itu, solusi paling baik bagi masalah truk ini, Jalingkut diselesaikan. Apalagi, anggaran proyek ini menjadi kewenangan pusat sehingga tidak membebani daerah,” terangnya.
Desakan dilanjutkannya proyek Jalingkut itu juga diutarakan aktivis Brebes, Abdul Aris Asa’ad. Menurut dia, keberadaan Jalingkut saat ini sudah sangat dibutuhkan. Di sisi lain, kondisi bangunan jalan yang sebagian sudah dikerjakan semakin rusak dan akan mubazir. Bahkan, sejumlah bangunan jembatan yang belum jadi semakin rusak.(sm)