Program Pengabdian Masyarakat Unversitas Nurul Huda
OTT KPK dan Mitos Jual Beli WTP di BPK
Jika Minum Minimal Dua Cangkir Kopi Sehari Bisa Kurangi Risiko Kanker Hati
Siswi SMK di Lumajang Dibegal saat Berteduh
Mudah Cara Membuat Foto Menjadi Miniatur
Jadwal Gerhana Bulan Total Terjadi Malam ini 7 September 2025
5 Trik Rumah Tangga yang Akan Memudahkan Pekerjaan Sehari-hari
Foto: Petenis Rusia Maria Sharapova. (REUTERS/John French/Files)
JAKARTA - Harapan Maria Sharapova untuk kembali dari pengasingan akibat doping demi meraih mahkota Prancis Terbuka yang ketiga, padam pada Selasa ketika penyelenggara secara mengejutkan menolak memberi wild card kepada petenis Rusia itu.
Petenis berusia 30 tahun itu menjuarai lapangan tanah liat Paris pada 2012 dan 2014 namun karirnya diguncang skorsing 15 bulan akibat doping pada tahun lalu itu.
Setelah baru kembali ke sirkuit bulan lalu, peringkat Sharapova sekarang 211, kurang tinggi untuk menjamin satu tempat otomatis di babak utama turnamen Roland Garros yang akan dimulai 28 Mei, atau babak kualifikasi yang digelar pekan sebelumnya.
Ini berarti ia membutuhkan bantuan dari Federasi Tenis Prancis (FFT) tetapi dalam perkembangan yang tidak terduga, terutama setelah Prancis Terbuka dipastikan tanpa Serena Williams yang sedang hamil dan Roger Federer yang beristirahat, dibutuhkan pendirian moral yang akan menyenangkan beberapa saingannya tetapi bisa memukul rating turnamen tersebut.
"Anda dapat memperoleh wild card ketika Anda kembali dari cedera tetapi tidak bisa mendapat wild card ketika kembali dari skorsing akibat doping," kata Presiden FFT Bernard Giudicelli dalam konferensi pers yang disiarkan langsung pada Facebook.
"Saya menghargai dampak Maria terhadap media, saya menghargai harapan para penyiar tetapi dalam hati nurani, tidak mungkin melampaui kode anti-doping dan melampaui penerapan peraturan..."
"Saya sangan menyesal untuk Maria, sangat menyesal bagi para penggemar," tambah Giudicelli. "Mereka mungkin kecewa, ia mungkin sangat kecewa, tetapi ini adalah tanggung jawab saya, misi saya, untuk melindungi standar permainan yang tinggi."
Kepala eksekutif WTA Steve Simon kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengakui bahwa ketika wild card dikeluarkan atas "kebijakan tunggal" dari turnamen ia tidak setuju dengan dasar yang diajukan oleh FFT untuk keputusan mereka".
"Dia telah memenuhi sanksi yang dikenakan oleh CAS," katanya seperti dikutip Reuters.
"Program anti-doping tenis (TADP) adalah usaha yang seragam yang didukung oleh Grand Slam, WTA, ITF dan ATP. (ant)