Program Pengabdian Masyarakat Unversitas Nurul Huda
OTT KPK dan Mitos Jual Beli WTP di BPK
Jika Minum Minimal Dua Cangkir Kopi Sehari Bisa Kurangi Risiko Kanker Hati
Siswi SMK di Lumajang Dibegal saat Berteduh
Mudah Cara Membuat Foto Menjadi Miniatur
Jadwal Gerhana Bulan Total Terjadi Malam ini 7 September 2025
5 Trik Rumah Tangga yang Akan Memudahkan Pekerjaan Sehari-hari
Mustasyar PBNU KH Adib Rofiudin Izza mengisi ceramah dalam peresmian Ponpes Al-Inaaroh Batang. (Tribunnews/dok. istimewa)
BATANG - Mustasyar PBNU, KH Adib Rofiudin Izza meresmikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Inaaroh, Wonotunggal, Batang. Peresmian ditandai dengan pemukulan bedug dan pemotongan pita.
Hadir dalam peresmian tersebut para tokoh agama, tokoh masyarakat, Muspika, MWC NU Kecamatan Wonotunggal. Peresmian diakhiri ceramah dari KH Adib Rofiudin Izza.
Pengasuh Ponpes Al-Inaaroh, KH Muhammad Luthfi, mengatakan, masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menyaksikan sebagian kelompok Islam yang ingin menggantikan dasar Negara. Mereka ingin mengganti ideologi Negara ke sistem khilafah, mengganggap pancasila, UUD, adalah sistem kafir dan thogut.
"Pemahaman ini muncul karena pemahaman keagamaan yang tekstual, dan kaku, serta mengarah pada radikalisme dan fundamentalisme," kata Luthfi, dalam rilis kepada Tribun Jateng, Jumat (25/5/2017).
Radikalisme dan fundamentalisme agama, katanya, tidak sesuai dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang terdiri dari suku, ras, budaya dan agama yang plural.
"Pendidikan formal dan pesantren adalah jalan untuk memotong pemahaman keagamaan radikal dan fundamental. Sejak pendidikan pertama hingga perguruan tinggi peserta didik harus ditanamkan pemahaman keagaman yang terbuka, menerima akan perbedaan," ujarnya.
Ia menyatakan, pendidikan dan pesantren adalah media paling efektif untuk menanamkan paham keagamaan yang moderat. Karena ketika dasar itu sudah kuat, maka mereka tidak gampang untuk goyah ke pemahaman yang ekstrim.
“Pendidikan dan pesantren adalah kawah candradimuka dalam membentuk insan-insan yang moderat, dan mampu berfikir jernih," jelasnya.
Ia menambahkan, pesantren melalui kajian kitab kuningnya telah mengajarkan santri-santri yang terbiasa dengan perbedaan pendapat. Santri biasa disuguhkan dengan khilafiyah dalam fikih.
Sehingga, tanpa sadar perbedaan merupakan keniscayaan yang telah menjadi tradisi. Ketika para santri ini terjun di masyarakat umum, mereka dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Pesantren melalui kitab kuningnya adalah laborat pemikiran moderat, sudah menjadi kebiasaan santri ketika di pesantren berselisih pendapat dalam masalah hukum. Dalam konteks bernegara santri sudah final, NKRI adalah sebuah kesepakatan bulat ulama dan founding father," tegasnya.
Ponpes Al-Inaaroh juga dilengkapi sekolah setingkat SMP yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Ponpes yang terletak di Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal, Batang ini didirikan untuk ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui program unggulan kitab kuning dan bahasa jawa, diharapkan akan mencetak cendekiawan muslim yang moderat dan santun.
"Kitab kuning akan mengantarkan siswa menjadi insan mampu mempelajari Islam dengan mendalam, melalui kitab-kitab klasik khazanah ulama. Sehingga dengan kajian yang mendalam mereka tidak terjebak dalam radikalisme dan fundamentalisme," tambah Humas Al-Inaaroh, Ubbadul Adzkiya.
Sedangkan dengan bahasa, katanya, akan menjadikan siswa-siswa yang santun, dapat menghormati orang yang lebih tua, dan mampu menjaga tradisi warisan nenek moyang.
“kitab kuning adalah benteng pemahaman agama yang radikal dan fundamental, dan bahasa jawa adalah cara mendidik untuk menjadi masyarakat yang santun. Jangan sampai orang jawa hilang jawanya," tutupnya.
(Tribunnews)